Rabu, 17 Februari 2010

cerpen liburan

Perjalanan Liburan Lebaran

Setelah berselang tiga hari dari hari raya Idul Fitri 1428H, saya dan ketiga teman saya yaitu, Draga, Ian, dan Ryo memutuskan untuk pergi berlibur ke Bandung. Kami berangkat dengan menggunakan Bus Antar-Kota yang berutekan Bekasi-Bandung. Karena pada saat itu bertepatan dengan arus mudik lebaran, kami sempat mengalami penundaan keberangkatan selama dua jam, yang dikarenakan kepadatan arus mudik lebaran. Di tengah perjalanan kami sesekali melihat kejadian-kejadian kecelakaan, yang dikarenakan banyaknya barang bawaan yang melebihi kapasitas daya angkut kendaraan. Sesampai di Bandung kami lansung bergegas menuju tempat rekreasi wisata Bandung yaitu Dago Pakar. Di sana terdapat goa-goa dan markas bekas penjajahan Jepang dan Belanda. Dari goa dan markas itu terlihat jelas dimata saya bahwa, begitu kejamnya para penjajah yang mengkerja paksakan orang-orang kita untuk membuat markas para penjajah. Tanpa terasa hari pun mulai petang. Kami bergegas untuk mencari penginapan.

Kami harus berjalan sejauh 8 KM, karena tidak terdapat satupun kendaraan umum yang beroprasi, dan penginapannya pun hanya berada di daerah Lembang, yaitu Maribaya. Perjalanan terasa sangat lelah karena terdapat dakian yang harus kami lewati. Akan tetapi cepat terobati karena keadaan alam yang sangat indah dan udara yang masih sangat bersih dan segar yang terhirup. Setelah sampai ditempat penginapan, karena harga penginapan disana cukup mahal, kami terpaksa harus menyewa penginapan yang cukup dibilang biasa-biasa saja. Waktu istirahatnya saja harus berganti-gantian, karena hanya terdapat satu tempat tidur. Udara disekitar penginapan pun terasa sangat dingin karena berlokasi ditengah-tengah bukit. Disana kami tidak ada yang mandi, karena airnya saja sangat dingin seperti batu es yang baru mencair. Akan tetapi disana terdapat juga kolam air panas yang berada tepat dibawah penginapan yang kami tempati. Dan malamnya kami langsung berendam disana sambil menikmati segelas kopi panas yang terasa sangat nikmat.

Keesokan harinya pun kami bangun pagi-pagi, karena perut sudah terasa sangat lapar kami bergegas untuk mencari makanan. Ditengah perjalanan kami dikejutkan dengan adanya seekor anak monyet yang tiba-tiba saja datang dari semak-semak dan langsung mencengkram salah satu badan teman saya yaitu Ryo, dengan wajah penuh ketakutan, teman saya berusaha untuk lari dan menghindar mencoba untuk melepaskannya, akan tetapi anak monyet itu masih saja mencengkram badan teman saya dan teman saya Draga pun berkata, mungkin wajah Ryo mirip dengan induknya, makanya anak monyet itu tidak mau melepaskannya, dan mengira Ryo adalah induknya. Kami pun turut membantu melepaskannya, dan anak monyet akhirnya pergi sambil di iringi dengan suara ejekan dan tawaan dari saya dan teman-teman saya.

Sesampainya dirumah makan kami disambut dengan hidangan-hidangan khas yang enak dan nikmat, sambil membahas si monyet yang jail tadi. Setelah selesai makan kami kembali lagi dikejutkan dengan harga makanan yang sangat mahal, karena lupa menanyakan harganya terlebih dahulu. Dengan perut kenyang kami kembali kepenginapan untuk beristirahat sejenak. Menjelang siang kami keluar mengitari sekitar penginapan, untuk mencari tempat-tempat yang bagus untuk berfoto sebagai kenang-kenangan. Disekitar penginapan kami menjupai air terjun yang sangat indah dan ditengah-tengahnya terdapat jembatan yang menambah keindahan air terjun tersebut. Dan saya tidak lupa untuk mengabadikan moment tersebut dengan berfoto-foto. Karena hari mulai menjelang malam kami kembali kepenginapan dan kembali berendam berendam dikolam air panas karena takut mandi dengan air yang dingin.

Keesokan kami bergegas untuk pulang. Tanpa berpikir panjang kami langsung mencari kendaraan yang beroprasi lebih cepat untuk mencapai terminal Bandung. Setelah sampai diterminal Bandung kami pun tidak menyadari bahwa uang yang kami bawa tidak cukup untuk menaiki bus menuju ke Bekasi, karena pada saat itu yang kami bawa hanya tinggal sebuah gitar butut, dan kami pun berniat untuk menjualnya untuk ongkos pulang ke Bekasi. Sudah sekian lama kami menawar-nawarkan gitar itu kepada orang-orang yang ada di sekitar kami, tetapi gitar itu tidak laku juga. Dan salah satu teman saya yaitu Ryo berkata, tanpa berpikir panjang dan sambil menunjukan muka melas, ‘’woiii bagaimana kalau kita ngamen saja’’, dan usul itu kami terima, karena pada saat itu sudah kehabisan ongkos. Kami pun cukup pintar, kami mengamen didalam bis yang sekaligus bertujuan ke arah yang kami tuju yaitu Bekasi. Lagu demi lagu kami nyanyikan tak henti agar tidak dipintai ongkos. Ketika bus yang kami tumpangi memasuki pintu tol, kami tidak tahu bahwa disana terdapat pemeriksaan jumlah penumpang, dengan segera kami mengumpulkan hasil kami mengamen untuk membayar ongkos bus tersebut. Akan tetapi tetap saja tidak cukup untuk membayarnya.

Ketika salah seorang petugasnya datang menghampiri kami, kami pun hanya terdiam dan mencoba pura-pura tidak tahu. Dengan wajah yang seram pak petugas pun berkata, ‘’maaf mas ongkosnya” kami pun bingung, dan salah satu teman saya memberikan ongkos yang kurang tersebut dan sambil berkata,’’pak apa boleh saya membayar sisanya di Bekasi saja pak”. Kami kira pak petugas akan marah dan menurunkan kami ditengah perjalanan, tetapi pak petugasnya hanya tersenyum dan berkata, ‘’Ooo ongkosnya kurang bilang dong’’ dengan sangat keras yang membuat semua para penumpang mendengar dan kami hanya diam dengan wajah penuh malu. Akhir pak petugas pun membolehkan kami untuk tetap menumpang bus dengan ongkos kurang. Bus pun melaju dengan cepat dan akhirnya sampailah ketempat tujuan kami yaitu Bekasi, lalu tiba-tiba pak petugas yang tadi datang dan sambil berkata, ‘’maaf yah mas soal perkataan saya yang kurang sopan saya hanya bercanda”. Dan kami dapat menerimanya dan dapat mengambil sebuah pelajaran, bahwa ada banyak cara seseorang untuk bercanda, akan tetapi tidak tahu apakah sudah membuat orang lain terluka.

Oleh “ Rama Ilham “

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar